Kisah Miris Siswi SMK Hidup Sebatang Kara di Gubuk Bambu, Sudah 5 Kali Diajukan Tak Digubris Pemda

Kerasnya kehidupan ini sudah dialami Siti Nuraida sejak ia masih anak balita.
Keadaan yang memaksa dirinya harus bertahan hidup tanpa kasih sayang kedua orangtuanya.
Ibu kandungnya sudah meninggal dunia sejak ia masih berusia 3 tahun (balita).
Sementara sang ayah, entah dimana keberadaannya setelah memilih menikah lagi seusai sang ibundanya itu telah tiada.
Bahkan, saat ini gadis yang akrab disapa Aida itu harus merawat dan menjaga keponakannya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Sudah bertahun-tahun ia hidup sebatang kara di rumah reot di Desa Cimanggu, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Rumah tersebut merupakan peninggalan dari neneknya.
Aida saat ini berstatus pelajar siswi SMK di Pandeglang.
Kakak Merantau ke Jakarta
Aida sebenarnya mempunyai seorang kakak perempaun.
Namun, sang kakak saat ini pergi merantau untuk kerja di Jakarta.
Bocah SD yang saat ini tinggal bersama Aida di gubuk reotnya merupakan anak dari kakaknya.
Keponakannya itu dititipkan oleh sang kakak perempuannya pada awal 2021 atau tiga bulan lalu untuk tinggal bersama Aida setelah kakak perempuannya bercerai dari suaminya dan memutuskan merantau bekerja di Jakarta.
Sang kakak menitipkan anaknya bernama Aisyah yang masih berusia 8 tahun kepadanya.
Aida kini duduk di kelas 10 di SMK Cimanggu, sedangkan keponakannya bersekolah di SDN 1 Cimanggu.
Ditinggal Orangtua Sejak Kecil
Kisah hidup Siti Nuraida berawal saat ibundanya meninggal karena sakit yang diderita pada 2005.
Saat itu, Aida masih berusia 3 tahun.
Tak lama kemudian, ayahnya pergi meninggalkan rumah setelah menikah dengan perempuan lain dan tak kunjung kembali,
Sejak saat itu, ia hanya mendapat perawatan dan kasih sayang dari kakak perempuannya yang belum beranjak dewasa serta saudara yang juga tinggal bertetangga.
Dan saat berusia 13 tahun atau masuk sekolah SMP, kakak perempuannya memutuskan menikah dan mengharuskan tinggal bersama suami di wilayah lain, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Sejak itu, ia mulai hidup mandiri.
Untuk makan sehari-hari, kadang ia memasak sendiri.
Namun, ia juga kerap makan di rumah saudaranya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
“Tinggal sejak kecil di sini sejak 2005. Ibu saya sudah tidak ada sejak saya berumur tiga tahun. Ayah saya sudah meninggalkan saya sejak masih kecil, kawin lagi,” kenang Aisyah saat ditemui TribunBanten.com di rumahnya, Rabu (7/4/2021).
Nyaris Ambruk
Aida tinggal di rumah penginggalan sang nenek yang nyaris ambruk.
Rumah berukuran 6×8 meter persegi itu terdapat 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, ruang keluarga dan dapur.
Namun, material rumah hanya terbuat dari kayu dan bilik bambu yang tampak berlumut nan lapuk.
Bahkan, saat ini rumah itu hampir ambruk lantaran sejumlah pondasi rumah berbahan kayu tersebut sudah lapuk.
Sebagian genting rumah yang berbentuk panggung itu tampak sudah berlumut.
Bocor sudah menjadi langganan di rumahnya ketika hujan mulai turun.
Rumah panggung Aida berlantai kayu dan bambu.
Saat melihat kebagian dalam rumah, tak tampak perabotan rumah tangga seperti lemari es maupun tempat piring dan gelas.
Lemari pakaian pun hanya berbahan plastik.
Untuk memasak, Aida mengandal tungku dengan bahan bakar kayu di pekarangan rumah.
“Harapannya sih bisa dibongkar, karena takut tinggal di sini dalam keadaan ini. Apalagi kalau hujan kencang terkadang takut saja,” ucapnya.
Kakak Kirim Uang Tiap Bulan
Kakak perempuan Aida yang kini kerja di Jakarta kerap mengirimkan uang untuknya setiap bulan.
Uang sebesar Rp 800 ribu tersebut untuk ketuhan sehari-hari serta biaya sekolah Aida dan Aisyah anak dari kakaknya.
Aida berusaha mengatur uang dari sang kakak agar cukup untuk biaya hidup satu bulan.
Tak jarang uang kiriman dari sang kakak datang terlambat dan memaksanya menahan lapar.
Aida tak mau mengeluh meski uang kiriman itu kurang mencukupi dan kadang datang terlambat.
Sebab, ia tidak ingin menyusahkan sang kakak yang tengah berjuang bekerja untuk mereka berdua.
“Kalau biaya hidup saya dikasih uang sama kakak saya yang sedang kerja di Jakarta. Dikirim Rp 800 ribu sebulan untuk kebutuhan sekolah dan makan,” ungkapnya.
Famili Aida pernah menawarkan Aida untuk tinggal di rumah mereka.
Namun, Aida memilih tinggal di rumahnya yang reot itu karena merasa nyaman di rumah sendiri.
Kini, besar harapan Aida mendapat bantuan dari pemerintah daerah setempat untuk perbaikan rumahnya.
5 Tahun Pengajuan Tak Digubris
Kepala Desa Cimanggu, Suwardi mengaku pihaknya telah mengajukan proposal permintaan bantuan ke Pemerintah Kabupaten Pandeglang untuk perbaikan rumah Aida selama 5 tahun berturut-turut.
Ia tak menapik jika rumah yang dihuni oleh siswi SMK itu sudah tak layak huni.
Menurutnya, tempat tinggal yang ditempati Aida sudah sejak lama masuk kategori rumah tidak layak huni (RTLH).
“Jadi, rumah ini sebenarnya sudah tidak layak pakai, sudah diajukan beberapa kali ke dinas, tetapi tidak pernah digubris. Jadi, hingga saat ini belum terealisasikan,” ujar Suwardi.

Tags: #berita #viral